Jumat, 16 Maret 2012

Rahasia Jadi Jenius Ala Stephen Hawking



Sekilas ia memang terlihat tak berdaya. Sudah 45 tahun hidup dijalaninya dalam kondisi lumpuh

dan bergantung pada kursi roda. Untuk bicara sekalipun, pria 68 tahun itu harus menggunakan

alat bantu.


Namun, siapa yang tak kenal Stephen Hawking. Ia astrofisikawan terkemuka dunia yang menelurkan

teori-teori hebat, juga nekat mengeluarkan pernyataan kontroversial: tentang Tuhan dan alien.


Ketika memberikan kuliah umum di Royal Albert Hall, London, baru-baru ini, Hawking mengaku

saat anak-anak, kemampuannya tidak luar biasa.


Bahkan, sebelum berusia 8 tahun, ia tak bisa membaca. Secara akademis, kemampuannya juga

lambat.


"Kakak perempuanku Philippa justru bisa membaca sejak berusia empat tahun....tapi kemudian,

yang jelas ia lebih cerdas dari saya," kata Hawking, seperti dimuat situsNews.com.au, Kamis 21

Oktober 2010 malam.


Jangankan jadi juara kelas, saat sekolah, ia tak pernah ada di peringkat separuh teratas di

kelas.


"Pekerjaanku di kelas berantakan. Tulisan tanganku mirip cakar ayam, sampai-sampai membuat

guruku frustasi," tambah dia.


Tapi, saat itu teman-temannya di kelas memberinya julukan 'Einstein',mengambil nama ilmuwan

besar, Albert Einstein.


"Mungkin mereka melihat pertanda baik dari diriku," kata dia.


Meski akhirnya berhasil memperoleh gelar dari universitas ternama, Oxford University, Hawking

mengaku saat itu ia tak bersungguh-sungguh. Jujur, tiap harinya Hawking hanya mengalokasikan

waktu sejam untuk mengerjakan tugas-tugasnya.


Hidup adalah pilihan, "kamu bisa jadi brilian tanpa usaha atau menerima segala keterbatasanmu

dan mendapatkan gelar setinggi-tingginya."


"Aku tidak bangga dengan hasilnya. Aku hanya mendeskripsikan perilakuku saat itu: sikap bosan

dan merasa tak ada yang berarti untuk diraih."


Lalu, kapan Hawking menjadi jenius?


Titik balik hidup Hawking terjadi di usianya yang ke-21 tahun. Saat itu, ia diberi tahu, bahwa

hidupnya mungkin tinggal beberapa tahun lagi.


Inilah yang memacunya menjadi produktif. "Saat diberi tahu akan mati muda. Ini akan membuatmu

sadar bahwa hidup sangat berharga. Tiba-tiba sangat banyak yang ingin kau lakukan di saat-saat

terakhir," kata Hawking.


Justru saat tak berdaya, masa-masa menghadapi kemungkinan mati muda adalah periode emas bagi

Hawking. Ia bangkit, berjuang, produktif sebagai ilmuwan, hingga membawanya ke penemuan dua

teori besar, yakni Big Bang dan Black Hole.


***


Hawking adalah penderita amyotrophic lateral sclerosis (ALS). Itu adalah penyakit yang

menyerang syaraf motorik, sehingga menyebabkan otak penderita tidak dapat memberikan perintah

kepada otot untuk bergerak.


Tak seperti penderita ALS lainnya, ia mampu bertahan hidup lebih dari lima tahun. Bahkan jauh

dari itu.


Awal menderita penyakit itu, Hawking jelas stres. Di saat-saat terberat itu, seorang anak yang

meninggal akibat leukimia menyadarkannya -- masih banyak orang yang menderita.


"Setiap kali saya mengasihani diri saya, saya mengingat anak itu,” ujar Hawking menjelang

ulang tahun ke-60 pada 8 Januari 2002.


Dan Hawking tak pernah menyesal. "Sebelum mengidap penyakit ini, hidup saya sangat

membosankan, tidak ada hal yang berguna yang dapat dilakukan. Saya merasa lebih bahagia

sekarang," kata dia.




sumber: vivanews.com

0 komentar:

Posting Komentar